NO WASTING TIME!

Mendamba UN yang Jujur

OPINI | Dimuat di Jurnal Nasional pada Senin 18 April 2011

Sertifikasi Otomatis Cetak Guru Profesional?

Dimuat di Harian Solopos pada Selasa 4 Nopember 2008

Wajah Bopeng Pendidikan Kita

Refleksi Hardiknas

Kaji Ulang Ujian Nasional

Dimuat di Jurnal Nasional pada Sabtu 11 Mei 2013

Setelah RSBI dibubarkan

OPINI | Sutrisno, Guru SMPN 1 Wonogiri

Selasa, 30 November 2021

KISI-KISI BAHASA INGGRIS

 


PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL

TAHUN PELAJARAN 2021/2022

SMP NEGERI 1 WONOGIRI


KISI-KISI MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

KELAS VII DOWNLOAD DISINI

KELAS VIII DOWNLOAD DISINI

KELAS IX DOWNLOAD DISINI


GOOD LUCK !

Selasa, 02 November 2021

ANARKISME ANAK SD

 




ANARKISME ANAK SD


Perkembangan keyakinan dan pemikiran manusia tentang pendidikan sekarang ini melahirkan beberapa ideologi dan paradigma dalam merumuskan hakikat, tujuan, dan metode dalam sistem pendidikan nasional. Dari beberapa ideologi dan paradigma ini memunculkan gagasan baru dengan lebih memilih dan menggunakan ekonomi politik sebagai fondasi utama dalam sistem pendidikan nasional.

 

Namun, kenyataannya sistem pendidikan seperti ini mengalami dekadensi dan degradasi standar moral bangsa. Faktor utama penyebabnya adalah sistem pendidikan kita telah mengingkari visi dan misi utamanya, seperti yang disampaikan pahlawan pendidikan kita Ki Hajar Dewantara tentang ”memanusiakan manusia”.

 

Driyarkara (1980) menguraikan bahwa pendidikan merupakan homonisasi dan humanisasi, dengan kata lain, berarti pendidikan sebagai proses menjadi manusia yang manusiawi. Drost (1998:2) menegaskan visi yang sama dengan Driyarkara, yaitu memanusiakan manusia sebagai inti pendidikan. Proses memanusiakan manusia terjadi demi kemandirian si individu bersangkutan, tetapi juga ”demi masyarakat karena manusia itu adalah manusia demi manusia-manusia lain”.

 

Namun, sayangnya, proses pendidikan memanusiakan manusia belum terimplementasi dengan baik. Dunia pendidikan dihebohkan oleh aksi anarkisme anak sekolah dasar (SD). Aksi anarkis anak SD antara lain terjadi di Lubuk Ngin, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. AFS (12), murid SD Negeri 1 Lubuk Ngin, dianiaya oleh empat temannya di dalam kelas, dan mengalami patah tulang leher dan sempat koma selama tiga hari (Kompas.com, 14/10/2021). AFS kini lumpuh total. Korban bahkan sempat hilang ingatan dan tidak mengenali orangtuanya (Kompas.TV, 22/10/2021).

 

Peristiwa itu bukanlah yang pertama. Renggo Khadafi (11), siswa kelas V SD di Jakarta Timur, meninggal  karena dipukuli kakak kelasnya. Penyebabnya sepele, pisang goreng yang dipegang kakak kelas jatuh tersenggol Renggo. Fajar Murdianto (12), siswa kelas V  SDN Klumprit 1 Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, juga tewas, diduga karena dikeroyok teman sekolahnya.

 

Kasus perundungan (bullying) anak di sekolah di Indonesia sangat parah. Perilaku ini sudah terjadi di hampir seluruh sekolah di Indonesia. Pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia, kerap menjadi tempat suburnya praktik-praktik kekerasan.

Anarkisme anak SD tersebut mencerminkan betapa dunia pendidikan gagal dalam pembentukan manusia yang berilmu pengetahuan dan bertakwa kepada Tuhan. Pendidikan yang menjadi basis dan kawah candradimuka peradaban, jelas menghadapi tantangan yang makin rumit dan kompleks.

 

Dunia pendidikan tak hanya dituntut untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa didik, tetapi juga harus mampu menjalankan peran dan fungsinya untuk menaburkan, menanamkan, menyuburkan, dan sekaligus mengakarkan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti sehingga keluaran pendidikan benar-benar menjadi sosok yang ”utuh” dan ”paripurna”; menjadi pribadi yang berkarakter jujur, rendah hati, dan responsif terhadap persoalan-persoalan kebangsaan.

 

Anarkisme anak SD merupakan cermin kegagalan sebuah sistem pendidikan. Ada yang salah dalam sistem pendidikan di negeri ini, hilangnya etika, perilaku baik, disiplin, merasa benar sendiri, serta tidak menghargai orang lain.

 

Sistem dan kurikulum pendidikan di Indonesia saya kira telah kehilangan roh dan maknanya serta tercerabut dari akar budayanya sendiri. Pendidikan di Indonesia juga alpa dengan sistem meritokrasi (proses pencapaian-pencapaian prestasi) sehingga hanya menciptakan manusia-manusia medioker.

 

 

Longgarnya pengawasan dari orangtua dan guru menambah liarnya kebanyakan siswa sehingga hanya akibat sepele atau iseng bisa menimbulkan kekerasan. Kekerasan yang terjadi merupakan ekspresi dari atmosfer yang mendorong terjadinya kekerasan. Inilah yang oleh Johan Galtung disebut sebagai ”lingkaran setan kekerasan” (vicious cycle of violence). Kita seolah-olah melihat lingkaran setan kekerasan dalam pendidikan yang akan terus berputar tanpa tahu harus berhenti di mana.

 

Harus diingat, bahwa anak SD sebagai generasi pelanjut kepemimpinan bangsa, eksistensinya sangat menentukan nasib bangsa ini di masa depan. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika sikap dan tindakan siswa SD tidak mencerminkan sebagai generasi bangsa yang berkualitas. Lalu, bagaimana menghapus kekerasan (bullying) di sekolah?

 

Dari pihak sekolah, perlu pembenahan sistem pendidikan. Pengembangan model pembelajaran problem solving based bisa menjadi solusi. Inti pembelajaran di sekolah, menurut Gagne’s (1980), adalah mendorong pelajar mampu berpikir logis, sistematis, dan menjadi pemecah masalah yang baik (better problem solvers).

 

Selanjutnya, penguatan kultur akademik sekolah yang demokratis dan egaliter. Ini membebaskan sumbat-sumbat impuls pemicu awal tindak kekerasan. Selain itu, penyediaan lingkungan alam dan sosial pendidikan yang memadai, nyaman, aman, dan menyenangkan akan mengabsorb impuls penyebab tindak kekerasan di luar sekolah.

 

Institusi sekolah juga jangan menekan siswa dengan berbagai tuntutan dan beban tugas sekolah yang berlebihan. Begitu pula dengan orangtua. Sebaliknya perhatikan dan kembangkan kompetensi tiap pribadi. Dengan begitu, ia akan dapat mengembangkan dirinya dalam kegiatan yang positif sehingga ia tidak sempat ikut melakukan aksi kekerasan. Virus-virus optimisme, kemandirian, dan kebersamaan harus ditularkan kepada semua pemangku kepentingan di sekolah.

 

Dari sisi siswa, perilaku kekerasan yang sama sekali jauh dari identitas dirinya sebagai pelajar harus dihindari. Mendesain agenda program yang lebih menguatkan eksistensi diri sebagai seorang pelajar. Siswa SD cenderung senang untuk belajar secara langsung karena rasa ingin tahu lebih tinggi dan suka berkelompok. Di sinilah siswa SD harus membiasakan diri untuk berperilaku yang tidak menyimpang dari kegiatan pembelajaran.

 

Dari sisi siswa, perilaku kekerasan yang sama sekali jauh dari identitas dirinya sebagai pelajar harus dihindari.

 

Dukungan pemerintah dan masyarakat juga tidak kalah pentingnya. Pemerintah melalui Kemendikbudristek bisa membangun relasi dan kerja sama yang lebih baik, khususnya dalam meningkatkan produktivitas siswa dalam belajar dan berkarya.

 

Peran penting masyarakat juga tidak bisa diremehkan. Memberikan dorongan dan semangat bagi para siswa dalam berbagai kegiatan kesiswaan ekstra sekolah, yang bisa mendekatkan siswa dengan masyarakat termasuk antarsiswa lintas sekolah itu sendiri.

 

Pemerintah harus proaktif mengawasi media yang menyiarkan kekerasan, baik media elektronik maupun internet (medsos). Dalam lingkungan sosial, tanggung jawab pendidikan siswa berada di tangan semua elemen masyarakat.

 

Pendidikan di sini senada dengan pendapat Driyarkara, bahwa pendidikan itu memanusiakan manusia. Ingat bahwa pendidikan bukan hanya mengutamakan segi kognitif dan psikomotorik, melainkan juga afektif. Justru dengan memperhatikan afeksi, siswa akan mencapai identitas yang sehat.

 

Upaya memutus mata rantai kekerasan di sekolah memerlukan upaya menyeluruh. Anarkisme anak SD semakin meyakinkan akan pentingnya pendidikan karakter dan budi pekerti di sekolah. Pendidikan karakter menjadi sangat urgen untuk diterapkan. Pemerintahan Joko Widodo sangat ditantang untuk mampu menempatkan pendidikan karakter sebagai pilar kekuatan bangsa.

 

Apa pun ceritanya, perundungan/kekerasan di sekolah harus dihapus dan dihentikan. Sebab, pendidikan dengan kekerasan masih terdapat di dalamnya telah kehilangan filosofi dan tujuannya. Dan kehilangan kedua pilar ini sangat berbahaya bagi perjalanan bangsa ini ke depan.

 

SutrisnoPendidik, Alumnus Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

 https://www.kompas.id/baca/opini/2021/10/29/anarkisme-anak-sd

Sabtu, 18 September 2021

KISI-KISI PTS GASAL TAHUN 2021/2022 MAPEL BAHASA INGGRIS

 



Kisi-Kisi PTS Gasal Tahun 2021/2022

Mata Pelajaran Bahasa Inggris

SMP Negeri 1 Wonogiri


KELAS 7 DOWNLOAD DISINI

KELAS 8 DOWNLOAD DISINI

KELAS 9 DOWNLOAD DISINI

Jumat, 10 September 2021

Anak-anak Lapar Perlindungan


Maraknya anak-anak menjadi korban Covid-19 menunjukkan bahwa perlindungan pada anak-anak adalah persoalan serius bagi bangsa ini. Selain Covid-19, berbagai bentuk kekerasan juga mengancam anak-anak.

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) pada 23 Juli 2021 masih dipayungi awan kelabu pandemi Covid-19. Anak-anak Indonesia di tengah amukan virus korona yang mematikan. Varian baru Covid-19 membuat anak-anak rentan terpapar dan bisa merenggut jiwa. Maka, perlindungan terhadap anak-anak sangat penting dan harus menjadi fokus utama.

Tema HAN 2021, ”Anak Terlindungi, Indonesia Maju”, sangat relevan dengan situasi yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Anak adalah masa depan sehingga penting untuk melindungi anak-anak dari ancaman Covid-19.

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) pada 23 Juli 2021 masih dipayungi awan kelabu pandemi Covid-19. Anak-anak Indonesia di tengah amukan virus korona yang mematikan. Varian baru Covid-19 membuat anak-anak rentan terpapar dan bisa merenggut jiwa. Maka, perlindungan terhadap anak-anak sangat penting dan harus menjadi fokus utama.

Tema HAN 2021, ”Anak Terlindungi, Indonesia Maju”, sangat relevan dengan situasi yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Anak adalah masa depan sehingga penting untuk melindungi anak-anak dari ancaman Covid-19.

Menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman B Pulungan, setiap satu minggu setidaknya terdapat dua anak yang meninggal karena Covid-19 di Nusantara. Hingga kini, jumlah anak yang terinfeksi Covid-19 sebanyak 12,3 persen dari kasus kumulatif nasional. Sebanyak 2,5 persen di antaranya merupakan anak usia 0-5 tahun, sementara 9,5 persen lainnya merupakan anak usia 6-18 tahun. Adapun case fatality rate-nya 3-5 persen. Dengan demikian, Indonesia menjadi negara dengan kematian anak karena Covid-19 yang tertinggi atau terbanyak di dunia.

Sejak virus korona baru masuk Indonesia, anak-anak kehilangan dunianya. Dunia bermain tak lagi bebas dengan teman sebaya di luar rumah atau lingkungan masyarakat. Kegembiraan bersekolah di ruang hilang karena pembelajaran tatap muka dihentikan dan diganti dengan sistem pembelajaran jarak jauh dengan metode dalam jaringan (daring).

Anak-anak tidak leluasa beraktivitas di luar untuk memperluas cakrawala pengetahuan dan keterampilannya. Anak-anak diharuskan bermain, belajar, dan berativitas di rumah dengan mematuhi aturan protokol kesehatan (prokes). Muncul kekhawatiran dampak pandemi Covid-19 pada anak terjadinya hilangnya minat belajar (lost learning) dan yang berbahaya adalah hilangnya generasi penerus (lost generation).

Penyair Lebanon, Kahlil Gibran, dalam bukunya, Sang Nabi, mengingatkan kita bahwa ”anakmu bukanlah anakmu”. Ungkapan Gibran di atas sebenarnya adalah untuk menyadarkan kita untuk menjaga anak sebagai titipan Tuhan dan betapa penting peranan anak di masa depan.

Masa depan anak erat kaitannya dengan perlindungan anak. Artinya, perlindungan anak menjamin anak berkembang secara optimal sehingga secara otomatis masa depan anak menjadi terjamin. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin, melindungi, dan memenuhi hak anak agar hidup dan tumbuh berkembang secara optimal, berpartisipasi serta mendapatkan perlindungan dari bermacam bentuk kekerasan dan penelantaran. Maraknya anak-anak menjadi korban Covid-19 seharusnya menggugah perhatian masyarakat bahwa perlindungan pada anak-anak adalah persoalan serius bagi bangsa ini.

Anak-anak lapar akan perlindungan dari orangtua, masyarakat, sekolah, dan negara. Bentuk tanggung jawab orangtua terhadap anak dapat diwujudkan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan fisik dan kejahatan seksual, pemberian pendidikan, pengenalan etika dan sopan santun, pemberian bekal agama yang baik dan perlindungan jiwa raganya. Dalam masa pandemi, keluarga ialah benteng utama dan pertama dalam melawan pandemi Covid-19 melalui tindakan nyata penerapan prokes sebagai harga dan pengawasan yang ketat pada anak. Memastikan anak usia 12-17 mendapat vaksin Covid-19 untuk melindungi serta mencegah anak-anak menularkan kepada orang dewasa yang rentan.

Tanggung jawab masyarakat adalah menciptakan lingkungan interaksi sosial yang positif sehingga anak bisa bersosialisasi dengan baik bersama dengan teman-temannya maupun lingkungan sekitarnya. Ciptakan lingkungan masyarakat yang sehat, bersih, ramah, peduli, dan memberdayakan anak sehingga mampu tumbuh kembang dalam meraih cita-citanya.

Masyarakat juga punya kewajiban memberikan perlindungan dan keselamatan anak dengan berbagai upaya dan program sesuai kemampuan serta sumber daya yang ada. Karena dalam masyarakat, ada anak yang ikut isolasi mandiri, anak yang kehilangan orang terdekat karena Covid-19, anak yang kehilangan hak akibat keluarga (orangtua) terdampak Covid-19. Memperbanyak lembaga atau komunitas yang berkonsentrasi pada penegakan hak anak karena dampak psikologis dan sosial pada anak pada masa pandemi akan lama.

Negara harus lebih serius

Sementara negara harus lebih serius memberikan jaminan dan merealisasikan program perlindungan anak Indonesia sebagai amanat Konvensi Hak Anak, pelaksanaan UU Perlindungan Anak dan Pasal 28B Ayat (2) UUD 1945. Selanjutnya, mengeluarkan kebijakan negara yang bersifat teknis dalam melindungi anak dari segala bentuk tindak pelanggaran hak anak seperti bunuh diri, penyiksaan anak berujung maut, tindak kekerasan (child abuse), kekerasan/komersialisasi seksual, diskriminasi, trafficking, dan perlakuan salah lainnya.

Pembiaran dan impunitas atas pelanggaran hak-hak anak adalah refleksi rendahnya derajat keberadaan dan lemahnya empati kemanusiaan oleh negara. Presiden Joko Widodo perlu membuat gerakan nasional peduli akan perlindungan dan terpenuhinya hak-hak anak terlebih di masa pandemi Covid-19 khususnya anak perempuan, anak penyandang disabilitas, anak dalam keluarga ekonomi lemah, dan anak di wilayah terpencil yang sulit akses logistik dan infrastruktur.

Anak-anak tidak hanya diteror bahaya Covid-19, tetapi juga ancaman berbagai bentuk kekerasan anak. Di sinilah pentingnya strategis advokasi keras dan penegakan hukum dengan menerapkan ancaman sanksi hukum maksimal yang berat dan konsisten terhadap pelaku kekerasan anak. Hal ini untuk memberikan efek jera kepada pelaku.

Selanjutnya, perlu partisipasi lintas sektoral dan program dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Sosial, Kemendikbudristek, Polri, KPAI, Komnas PA, pemprov, pemkab/pemkot dan masyarakat baik LSM/NGO serta organisasi masyarakat sipil lainnya untuk memenuhi hak anak mendapatkan pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan, hidup yang layak, rasa aman, dan tempat tinggal yang memadai. Kemitraan yang sejajar dan kondusif merupakan syarat suksesnya sebuah agenda.

Peringatan HAN kiranya menjadi pengingat bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan pemerintah dan semua elemen bangsa untuk lebih memedulikan kepentingan anak-anak. Paling tidak, suara anak-anak dari berbagai latar belakang didengar oleh negara dan dijadikan pertimbangan dalam membuat program serta kebijakan terkait pemenuhan hak dan perlindungan dalam situasi pandemi Covid-19. Jika anak terlindungi, masa depan anak menjadi cerah dan terjamin bangsa pun mengalami kemajuan. Indonesia Layak Anak 2030 dan Generasi Emas 2045 akan bisa terwujud.

Sutrisno, Pendidik, Alumnus Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Sumber : Kompas.id

https://www.kompas.id/baca/opini/2021/08/07/anak-anak-lapar-perlindungan/

7 Agustus 2021 12:00 WIB


Rabu, 04 Agustus 2021

REKENING GHOIB

 




9 Rahasia  REKENING  GAIB  Sepanjang Masa

1. Rekening yang  pertama  belilah  sarung  atau  mukena.  Lalu  sedekahkanlah  di  masjid  yang  ramai  di sekitar  kota  Anda  yang  Anda  tahu.  Maka  setiap  kali  orang  memakai  sarung  atau  mukena  yang Anda  sedekahkan  ini,  maka  pahala  orang  yang  sholat  ini  pun  juga  akan  mengalir  kepada  Anda selama  sarung  dan  mukena  ini  dipakai. 

2. Rekening yang  kedua,  berikanlah  sumbangan  kepada  masjid  yang  sedang  direnovasi  atau  dibangun. Nggak  perlu  harus  besar,  kecil  pun  tak  masalah  yang  penting  Anda  menjadi  bagian  darinya.  Bisa nyumbang  biaya per  meternya, atau beliin  1  kardus keramiknya, 1  sak  semennya  bahkan 1  keran pun  tak  jadi soal.  Maka selama  masjid  ini  berdiri  dan  dipakai untuk sholat, pahala pun  akan  terus mengalir untuk  Anda. 

3. Rekening yang  ketiga,  belilah  Al  Quran.  Lalu  letakkan  di  masjid-masjid  atau  di  rumah-rumah  tahfidz. Hadiahkan  Qur’an  ini.  Maka  selama  Qur’an  ini  terus  dibaca,  berharaplah  setiap  hurufnya  akan menjadi pahala  bagi Anda juga. 

4. Rekening yang  keempat,  bersedekahlah  kepada  sekolah  atau  madrasah  yang  mengajarkan  Qur’an. Salah  satu  alasan  kenapa  saya  mendirikan  sebuah  TPA  dan  TK  adalah  karena  di dalamnya Qur’an diajarkan.  Dan  setiap  kali  Qur’an  dihapalkan  oleh  anak-anak,  hingga  nanti  dia  dewasa menggunakannya  dalam  sholatnya,  insyaallah,  saya  pun  akan  mendapatkan  pahalanya.  Karena terhitung  sebagai pembuka  jalan  kebaikan. 

5. Rekening yang  kelima,  tanggunglah  kehidupan  seorang  yatim.  Jika  Anda  berani  dan  mampu  maka tanggunglah  kehidupan  seorang  yatim.  Ini  seperti  membeli  nyawa  kedua.  Mungkin  kita  akan lebih  dulu  tua  dan  meninggal.  Maka  saat  itu  terjadi,  sementara  anak  yatim  yang  pernah  kita asuh  masih  tumbuh.  Seluruh  amal  kebaikannya  pun  akan  menjadi  wasilah  bagi  bertambahnya hitungan  amal  kita  pula.  Kalau  belum  punya  cukup  kemampuan,  minimal  bayarin  SPP bulanannya di  sekolah. 

6. Rekening yang  keenam, tanggunglah  makan seorang  guru  atau  ustadz.  Seorang  guru  yang  mengajar setiap  hari  dengan  ikhlas,  mengajarkan  kebaikan  ke  banyak  anak  sepanjang  hidupnya.  Jika  kita ikut  berbakti  menanggung  kehidupannya,  maka  kita  pun  akan  memiliki  rekening  amal  seperti yang  guru  tersebut  punya.  Karena  kita  adalah  yang  ikut  membantu  beliau  untu  terus  mampu memperpanjang  nafas  dakwahnya. 

7. Rekening yang  ketujuh,  tanamlah  sebuah  pohon.  Menanam  pohon  akan  sangat  bermanfaat. Apalagi  jika  pohon  ini  mampu  hidup  ratusan  tahun.  Selain  membantu  menyediakan  oksigen, barang  siapa  yang  berteduh  di  bawahnya  pun  akan  terhitung  menjadi  catatan  amal  kebaikan kita. ini seperti  memiliki  pohon  amal yang  tiap  saat  bisa dipetik  tanpa mengenal  musiman. 

8. Rekening yang  kedelapan,  belilah  kursi  roda.  Lalu  sedekahkanlah  ke  klinik  atau  rumah  sakit  atau panti  jompo.  Maka  setiap  kali  kursi  roda  ini  termanfaatkan.  Bisa  Anda  bisa  bayangkan  amalanamalan  baik  ini  pun  akan  terus mengalir untuk  Anda. 

9. Rekening yang  kesembilan,  yang  paling  murah  diantara  semuanya.  Sebarkanlah tulisan ini  jika Anda merasa bahwa ini  bermanfaat. Maka apapun  perbuatan baik yang  akan lahir setelah orang  membaca  artikel  ini,  semoga  itu  pun  menjadi  catatan  amal  kebaikan  Anda.  Karena  lewat membagikannya,  Anda  sudah  menjadi  pembuka  jalan  kebaikan  dan  menunjukkan  jalan  kebaikan kepada orang  lain. Itulah  bonus  terakhir  yang  bisa  saya  berikan  untuk  Anda.  Saya  harap  ilmunya  benar-benar Woow  untuk  Anda  semua  dan  yang  lebih  penting,  ini  semua  bisa  bekerja  untuk  Anda.  tentu hanya jika Anda  mau  melakukannya dengan  serius  dan  konsisten. Terima Kasih..  dan  semoga  bermanfaat. Salam  dari  saya untuk  keluarga Anda di  rumah.

Source: Anonimuous WAG

Senin, 05 Juli 2021

QUANTUM HEALING


QUANTUM HEALING

Kisah Nyata

Seorang wanita usia lanjut yang kaya raya akan melakukan transplantasi/ cangkok ginjal untuk kelangsungan hidupnya. 

Setelah melalui proses seleksi yang ketat ada satu di antara calon pendonor yang memenuhi syarat,  yaitu seorang ibu muda yang miskin.

Saat tiba waktunya, kedua wanita ini harus bermalam di RS,  agar proses persiapan operasi cangkok ginjal berjalan lancar.

Di pagi hari yang telah ditentukan, sebelum masuk ke ruang operasi,  wanita kaya, ingin bertemu dengan calon pendonor ginjalnya.

Namun sesampainya di depan kamar, ia  mendengar wanita tersebut sedang menangis.

 Setelah diketuk berkali-kali, pada akhirnya pintupun dibuka. 

 "Kenapa Ibu menangis?" 

"Saya terpaksa menjadi pendonor ginjal karena saya sangat miskin Nyonya.

 Suami saya telah lama meninggal. Saya harus menghidupi 3 anak yang masih kecil kecil seorang diri. Sementara pekerjaan  saya hanya buruh nyuci".  

"Maaf nyonya, sebenarnya saya tidak ingin melakukan hal ini seandainya saya punya uang," Ujarnya dengan penuh lirih.

 Mendengar penuturan wanita calon pendonor ginjal yang penuh derai air mata , Wanita kaya merasa terharu dan Iba.

Sejenak kemudian dia berkata: "Saya sudah tua, sudah begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada saya. Sepertinya Saya  tidak lagi memerlukan  ginjal baru. Kalau Allah menghendaki, biarlah saya meninggal dengan penyakit ini. Saya sudah pasrah siap menerima apapun yang terbaik menurut kehendak Allah,.

Ambillah uang itu Dik,  sebagai sedekah dari saya. Untuk biaya hidupmu membesarkan anak anakmu. .

Saya ikhlas menerima penyakit ini."

Sejenak suasana menjadi hening.

Diraihnya wanita muda yang sedang bersimpu di bawah tempat tidur, sambil di peluknya.

Mereka berpelukan, seketika tangis kedua wanita ini menggema, memenuhi ruangan.

Operasi akhirnya dibatalkan. 

Kedua wanita itu kembali ke rumahnya masing-masing 

Sebulan berlalu, Wanita kaya itu tidak lagi ada keluhan tentang  fungsi ginjalnya. 

Karena merasa ada yang berbeda, wanita Kaya ini datang kembali ke Rumah Sakit untuk konsultasi kepada Dokter yang menanganinya selama ini.  

Ternyata hasil rekam medik terbaru,  dokternya terkejut,   ginjalnya telah berfungsi kembali.

Secara medis hal itu sulit dijelaskan.

Para Pakar Kesehatan mengatakan kesembuhan seperti ini disebut dengan "Quantum Healing," 

Tidak jelas mekanismenya, tetapi ada proses yang terjadi yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu kedokteran. 

Saat ini, para ahli hanya bisa menjelaskan Ada mekanisme psiko neuro endokrinimunologi 

Mekanisme yg bermula dari Qalbu. 

Seorang pasien yang pasrah "sepasrah-pasrahnya" , iklas menerima apapun yg terbaik bagi dirinya, dapat memengaruhi sistem kerja syarafnya dalam menghasilkan berbagai hormon penyembuhan.

Kondisi kejiwaan seseorang yang sudah masuk ke dimensi ini, sangat  berpengaruh besar pada fungsi hormonalnya.

Dan pada akhiirnya hormon yang ada dalam tubuhnyalah yang bekerja memperbaiki   organ tubuh yang rusak tanpa perlu bantuan  dari unsur Medis.

Berbahagialah orang yang iklas berderma, karena mereka akan peroleh kemurahan dari Allah SWT.

Semoga bermanfaat

Wassalam..


Sumber naskah

QUANTUM HEALING: Discover the Power of Self-Healing through the laws of Quantum Physics and the Body-Mind Connection

Wikipedia

Sabtu, 03 Juli 2021

SEBUTAN DINTEN BASA JAWI

Kagem pangenget-enget kula aturaken sebutan wulan lan dinten basa Jawi,Piyantun Jawi sampun ngantos ninggalaken Jawinipun.

A.Wulan utawi Sasi
1.Wadana ( Januari ).
2.Wijangga ( Februari ).
3.Wiyana ( Maret ).
4.Widada ( April )
5.Widarpa ( Mei )
6.Wilapa ( Juni )
7.Wahana ( Juli )
8.Wanana ( Agustus )
9.Wurana ( September )
10.Wujana ( Oktober )
11.Wujala ( Nopember )
12.Warana ( Desember ).
B.Dinten
1.Radite ( Ahad )
2.Soma ( Senin )
3.Hanggara ( Selasa )
4.Buda ( Rabu )
5.Respati ( Kamis )
6.Sukra ( Jumat )
7.Tumpak ( Sabtu )
Neptunipun dinten
1.Ahad: 5
2.Senin: 4
3.Selasa: 3
4.Rabu: 7
5.Kamis: 8
6.Jum'at: 6
7.Sabtu: 9
C . PEKENAN/WETON JAWI
Pon = Jenar
Wage = Cemengan.
Kliwon = Kasih.
Legi =. Manis
Pahing = Abritan/jenar
D.Neptu Weton Jawi
1.Pahing : 9
2.Pon : 7
3.Wage : 4
4.Kliwon : 8
5.Legi : 5
Mugi-mugi wonten paedahipun,sinambi nguri-uri budaya adiluhung Jawi kita,menawi kirang utawi lepat nyuwun koreksi,Matur nuwun.
E. Arane Wuku
Sawuku umure saminggu,cacahe Wuku ana 30,
yaiku :
Wuku Shinta
Wuku Landhep
Wuku Wukir
Wuku Kuranthil
Wuku Tolu
Wuku Gumbreng
Wuku Warigalit
Wuku Warig agung
Wuku Julungwangi
Wuku Sungsang
Wuku Galungan
Wuku Kuningan
Wuku Langkir
Wuku Arandhasiya
Wuku Julungpujut
Wuku Pahang
Wuku Kuruwelut
Wuku Marakeh
Wuku Tambir
Wuku Medhangkungan
Wuku Maktal
Wuku Wuye
Wuku Manakil
Wuku Prangbabat
Wuku Bala
Wuku Wungu
Wuku Wayang
Wuku Kulawu
Wuku Dhukut
Wuku Watugunung
F. Arane Sasi Masehi
Januari,Februari,Maret,April,Mei,Juni,Juli,Agustus,September,Oktober,Nopember,Desember
G. Arane Sasi Arab.
Muharram,Safar,Rabiul Awal,Rabiutsani,Jumadil Ula,Jumadil Tsaniyah,Rajab,Sya’ban, Ramadhan,Syawal,Dzulqadah,Dzulhijjah
H.Arane Sasi Jawa
Sura,Sapar,Mulud,Bakda Mulud,Jumadil Awal,Jumadil Akhir,Rejeb,Ruwah,Pasa,Sawal, Dulkangidah/Selo,Besar.
I. Arane Taun
Alip,Ehe,Jimawal,Je,Dal,Be,Wawu,Jinakir
J. Arane Windu
Adi,Kuntara,Sangara,Sancaya
K. Arane Wilangan Jawi
Siji = Eka
Loro = Dwi
Telu = Tri
Papat = Catur
Lima = Panca
Nem = Sad
Pitu = Sapta
Wolu = Asta
Sanga = Nawa
Sepuluh = Dasa
Satus = Sata
Sewu = Sasra
Sepuluh ewu = Saleksa
Satus ewu = Sakethi
Sayuta = Sayuta
L. Arane Wayah
.Jam 03:00 : Wayah Fajar Sidik ( Bang-Bang Wetan ).
.Jam 04:00 : Wayah Bedhug Subuh.
.Jam 05:00 : Wayah Saput Lemah
.Jam 06:00 : Wayah Byar
.Jam 09:00 : Wayah Tengange
.Jam 10:00 : Wayah Wisan Gawe
.Jam 12:00 : Wayah Bedhug
.Jam 13:00 : Wayah Luhur
.Jam 15:00 : Wayah Lingsir Kulon
.Jam 16:00 : Wayah Asar
.Jam 17:00 : Wayah Tunggang Gunung
.Jam 17:30 : Wayah Tribalayu
.Jam 18:30 : Wayah Surub/Candrikala
.Jam 19:00 : Wayah Bakda Magrib
.Jam 19:30 : Wayah Isya’
.Jam 20:00 : Wayah Bakda Isya’
.Jam 21:00 : Wayah Sirep Bocah
.Jam 23:00 : Wayah Sirep Wong
.Jam 24:00 : Wayah Tengah Wengi
.Jam 01.00 : Wayah Lingsir Wengi
M. Arane Kiblat
Lor = Utara
Kidul = Daksina
Wetan = Purwa
Kulon = Pracima
Mugi2 Wong jowo mboten ilang JAWANE