NO WASTING TIME!

Friday, December 10, 2010

Memacu Kreativitas Menulis

Dimuat di Harian Solopos Edisi : Kamis, 25 November 2010, Hal.4

Sutrisno

Refleksi Hari Guru, 25 November 2010

Jika diamati, sebagian besar kegiatan guru di sekolah lebih berorientasi pada misi pendidikan dan pengajaran di kelas sedangkan visi dan misi ilmiah dalam bentuk penulisan dan publikasi ilmiah sering terabaikan.

Implikasinya, penulisan dan publikasi karya ilmiah di kalangan guru masih memrihatinkan. Hal ini ditandai dengan rendahnya produktivitas guru dalam menulis dan memublikasikan karya ilmiah, termasuk di dalamnya pemakaian bahasa Indonesia ragam tulis ilmiah.

Penulisan dan publikasi karya ilmiah yang dihasilkan oleh setiap guru dan tenaga kependidikan lainnya hendaknya dijadikan ajang pengembangan keilmuan dan profesi yang ditekuninya. Namun, tidak tertutup kemungkinan, penulis karya ilmiah dapat menuliskan karya mereka semata-mata karena motivasi pengumpulan angka kredit atau atas permintaan masyarakat, seperti makalah untuk seminar atau pelatihan.

Hal-hal seperti itu sebaiknya tidak dijadikan motivasi utama dalam menulis dan memublikasikan karya ilmiah. Yang lebih esensial adalah misinya pada kecintaan serta kemampuannya dalam bidang keilmuan dan profesi yang ditekuninya.

Masyarakat Barat sejak abad ke-16 sudah membudayakan kegiatan keberaksaraan (literasi) yakni membaca dan menulis. Akibatnya, peradaban mereka maju dengan pesat dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Ipteks). Satu hal yang menonjol dalam masyarakat Barat adalah individualisasi. Akhirnya, terjadi gejala alienasi (keterasingan), kehilangan solidaritas, dan kebersamaan. Hubungan kausal segala aspek dan gejolak itu mudah ditentukan. Namun, budaya keberaksaraan (membaca dan menulis) merupakan faktor yang sangat esensial dalam seluruh proses individualisasi ini.

Individualisasi dalam masyarakat Indonesia masih mengalami hambatan. Hal ini disebabkan oleh adanya budaya keseragaman. Kemampuan untuk melahirkan pemikiran yang berbeda seringkali memperoleh ganjaran keterasingan bahkan dikucilkan.

Saat ini, disinyalir masih subur iklim keseragaman di sekolah-sekolah bahkan sampai tingkat perguruan tinggi sekalipun. Hal ini tentu akan mempengaruhi pola berpikir individu. Jika siswa yang mempunyai visi, cara pandang dan pendapat yang berbeda dengan gurunya, ia akan mendapat perlakuan yang kurang baik, bahkan dicurigai, dikucilkan, dan sebagainya.

Berdasarkan hasil penelitian, masyarakat intelektual di era informasi modern sekarang harus dapat menyerap informasi sebanyak 820.000 kata per pekan apabila ia ingin mempertahankan prestasi dan prestisenya di tengah perubahan global. Dengan demikian, minimal setiap hari ia harus membaca antara empat sampai enam jam. Seorang penulis tentu saja harus melakukan kegiatan membaca seperti itu sehingga ia memiliki bahan tulisan yang banyak dan bervariasi. Jika kegiatan membaca guru baik, dapat diasumsikan bahwa kreativitas dan produktivitas guru dalam melahirkan dan memublikasikan karya ilmiah juga akan meningkat. Ada hubungan yang signifikan antara kemampuan membaca dengan produktivitas menulis karya ilmiah.

Jika jumlah guru di Indonesia saat ini sekitar 1,5 juta orang, dalam setahun setiap guru menghasilkan satu karya ilmiah saja misalnya, berapa banyak informasi yang dapat diakses oleh masyarakat. Kita tidak usah berbicara ideal, dari jumlah guru, 10% saja menulis dan memublikasikan karya ilmiah, berapa banyak wacana keilmuan yang dapat diserap oleh masyarakat?

Idealnya, setiap karya tulis yang dihasilkan guru diorientasikan untuk dipublikasikan sehingga akan menggugah guru untuk selalu berkarya. Mereka inilah yang berkepentingan untuk pengembangan ilmu pengetahuan serta pemecahan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, akan diketahui peta karya ilmiah guru yang bersangkutan. Karya tulis dan publikasi ilmiah guru dapat dijadikan tolok ukur, indikator serta barometer kualitas dan keunggulan pendidikan (sekolah) yang bersangkutan.

Salah satu kendala yang dihadapi pengembangan ilmu di Indonesia adalah kecilnya jumlah dan rendahnya mutu karya ilmiah yang diterbitkan orang setiap tahun. Produktivitas buku atau majalah-majalah ilmiah di negara kita tidaklah sepadan dengan jumlah ilmuwan atau cendekiawan serta sangat tidak seimbang dengan jumlah penduduk Indonesia. Hubungan antara penulis, penerbit dan pembaca merupakan segi tiga tertutup bertimbal balik, sering kali menjadi lingkaran setan bila salah satu di antara mereka tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kendala lainnya adalah waktu penerbitan yang kedaluwarsa sehingga informasi dan wacana keilmuan yang termuat dalam publikasi tidak aktual lagi.

Pacu kreativitas

Hari Guru 25 November ini menjadi momentum untuk membudayakan menulis. Ada beberapa upaya memacu kreativitas guru dalam menulis dan memublikasikan karya ilmiah.

Pertama, membiasakan menulis dalam setiap kesempatan berdasarkan apa yang dibaca, dilihat, didengar, dirasa, maupun yang dialaminya. Tulisan ini dapat berbentuk pokok-pokok pikiran, outline (kerangka karangan), pernyataan-pernyataan, bahkan hanya menyalin ulang wacana yang dibaca beserta identifikasi rujukan. Dari kegiatan dan tradisi semacam ini akan didapatkan bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan dalam suatu penulisan.

Kedua, menumbuhkan motivasi serta keberanian menulis, bukan hanya untuk memperoleh angka kredit, apalagi penghargaan finansial. Menulis hendaknya merupakan suatu kebutuhan dan kecintaan kepada profesi yang ditekuninya. Oleh karena itu, guru hendaknya mampu mengomunikasikan berbagai tulisannya dalam berbagai forum ilmiah. Misalnya, forum akademik atau forum lain yang lebih luas, yang berfungsi sebagai media pengabdian.

Ketiga, menulis abstrak makalah dan mengirimkannya pada suatu penyelenggara seminar yang sering menawarkan. Dengan upaya ini, kemungkinan besar guru akan dapat berpartisipasi menyajikan makalah dalam forum seminar, lokakarya, pertemuan ilmiah dan kegiatan sejenis lainnya.

Keempat, menulis artikel di media massa. Hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan menyesuaikan ragam bahasa yang diinginkan oleh suatu media penerbitan. Untuk jenis ini, digunakan ragam bahasa jurnalistik yang bersifat komunikatif dan mudah dipahami maknanya oleh pembaca yang lebih luas. Untuk membuat sebuah tulisan yang dapat dimuat di media massa ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan tidak sekali mengirim lalu tidak pernah lagi menulis dan mengirimkannya.

Kelima, menulis handout setiap pokok bahasan dalam setiap pembelajaran berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disusun dan ditetapkan. Dari kegiatan ini akan diperoleh peluang untuk menghasilkan buku ilmiah yang dapat diterbitkan. Atau, dapat pula dalam setiap proses pembelajaran di kelas, guru melakukan kegiatan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Dari kegiatan seperti ini akan diperoleh gambaran kondisi pembelajaran di kelas/sekolah yang sebenarnya kemudian dilakukan pelaporan tertulis hasil penelitian di kelas. Di sini guru bertindak selaku pengajar sekaligus sebagai peneliti pembelajaran.

Keenam, menuliskan gagasan, pemikiran, serta temuan penelitian untuk siap dikirim ke media massa cetak mana pun. Tidak perlu menilai dan memilih apakah media itu bersifat lokal, regional, nasional atau bahkan internasional. Akan tetapi, misi utama guru melakukan kegiatan seperti itu adalah meningkatkan kualitas dan produktivitas penulisan karya ilmiah.

- Oleh : Sutrisno Guru SMPN 1 Wonogiri
Reactions:

0 comments: