NO WASTING TIME!

Sunday, July 7, 2013

Menjadi Guru Berkarakter

Guru bukanlah sembarang pekerjaan. Profesi ini menuntut pelakunya memiliki kelebihan, baik pengetahuan, keterampilan, kepribadian, sosial, akhlak, maupun spiritual. Tugas guru tidak hanya sekadar mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Lebih dari itu, dia bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter dan kepribadian siswa agar menjadi insan yang bermoral dan berilmu.

Karena pembentukan karakter anak bangsa ada di pundak guru, di sinilah guru memiliki peran untuk menyelamatkan moral bangsa yang saat ini berada di titik nadir. Guru pulalah yang mengemban tugas mulia untuk mengembalikan citra bangsa yang saat ini masih terpuruk. Karena itu, sudah saatnya kita fokus juga menggarap pendidikan karakter tersebut. Ini penting demi terciptanya bangsa yang maju dan sejahtera yang memiliki kepribadian dan karakter yang kuat dan teguh. Namun, pendidikan karakter tidak akan berhasil kalau orang-orang yang diamanatkan untuk mendidik bukanlah yang berkarakter. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari guru yang berkarakter dan profesional.

Untuk menjadi guru berkarakter, minimal harus memiliki kompetensi-kompetensi sebagai seorang pendidik. Merujuk pada UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, seorang guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi profesional, pedagogis, personal, dan sosial. Dari keempat kompetensi tersebut, aspek yang paling mendasar untuk menjadi seorang guru yang berkarakter dan patut diteladani adalah kompetensi personal (kepribadian) karena kepribadian ini menjadi cikal bakal lahirnya komitmen diri, dedikasi, dan semangat perjuangannya dalam melaksanakan tugas. Seorang guru harus memiliki kematangan pribadi yang terlihat dari kemampuan bernalar dan bertutur kata, bersikap, memberi contoh yang baik, inovatif, kreatif, serta memahami perkembangan anak.

Untuk menjadi guru berkarakter, ada baiknya mencontoh Ki Hajar Dewantara yang berhasil membangun Perguruan Taman Siswa. KH. Ahmad Dahlan yang berhasil mendirikan Organisasi Muhammadiyah dan H. Agus Salim yang suskes membangun martabat bangsa ini.

Melalui pendidikan yang mereka bangun, mencuatkan suatu peradaban berfikir bagi masyarakat. Membentuk pola pikir yang lebih bekemajuan, mencetak pemikir-pemikir muda berpotensi dibidangnya masing-masing. Mereka berjuang mencerdaskan kehidupan anak bangsa tanpa pamrih, namun mereka sukses dalam membangun karakter anak bangsa.

Sejarah pun telah membuktikan bahwa guru menjadi penentu maju atau mundurnya suatu bangsa. Ketika Amerika Serikat dan Sekutunya meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki dengan bom atom, maka yang ditanyakan pertama kali oleh Hirohito yang waktu itu menjadi kaisar Jepang adalah berapa orang guru yang tewas? Hirohito tidak menanyakan berapa banyak tentaranya yang tewas. Dia sadar bahwa kehilangan guru lebih merugikan dibandingkan kehilangan tentaranya.

Ini menjadi bukti bahwa peran guru sangat vital bagi kemajuan bangsa manapun di dunia ini. Sejak saat itulah Jepang mulai bangkit dan menata kembali peradabannya dengan memberikan perhatian yang lebih terhadap dunia pendidikan. Hasilnya bisa kita lihat bahwa hingga hari ini negara Sakura tersebut menjadi kekuatan baru yang mampu bersaing dengan negara maju lainnya seperti Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan lain sebagainya.

Saat ini, kita sangat membutuhkan guru-guru yang berkarakter. Guru berkarakter harus berperan aktif dalam membangun karakter bangsa dan menegakkan prinsip kebangsaan, yaitu penegakan dan pelestarian Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan kebinekaan. Hal ini bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Potensi peserta didik dikembangkan menjadi manusia ideal, yakni bertakwa, berakhlak mulia, kreatif, demokratis, dan bertanggung jawab. Keberhasilan guru di dalam membangun karakter anak bangsa maupun moral bangsa niscaya akan mampu mengangkat harkat dan martabat, baik secara vertikal maupun horizontal.

*)  Oleh Sutrisno
    Guru SMPN 1 Wonogiri
**) Dimuat di Harian Solopos Sabtu 30 Juni 2013
Reactions:

0 comments: