NO WASTING TIME!

Tuesday, September 15, 2009

Special Edition >> RAMADHAN 1430 H

Muraqabatullah - Merasa Diawasi Allah

Ada seorang wanita shalihah, bertaqwa, selalu mencintai kebaikan, bibirnya tak sedikitpun pernah lepas dari dzikir kepada Allah dan tidak sekalipun keluar perkataan kotor dari mulutnya. Apabila mengingat neraka, gemetar hatinya dan diliputi ketakutan, serta merta ia menengadahkan tangan memohon perlindungan Allah dari jilatan apinya. Dan apabila mengingat surga, bergejolak keinginannya untuk masuk ke dalamnya. Kemudian memohon kepada Allah agar menjadikannya termasuk penduduk surga-Nya.

Suatu ketika tiba-tiba ia merasakan sakit yang tak terhankan pada pahanya. Ia berinisiatif mengolesi pahanya dengan minyak oles kemudian membalutnya dengan kain untuk mengurangi rasa sakit. Namun rasa sakit itu malah bertambah parah. Beberapa rumah sakit dan dokter dikunjunginya, namun tidak menemukan kesembuhan. Akhirnya suaminya membawanya ke London dan ia harus opname di salah satu rumah sakit kenamaan di London.

Dari diagnosa team dokter yang menanganinya disimpulkan, bahwa telah terjadi pembengkakan yang disebabkan pembekuan darah pada salah satu daerah di tubuhnya. Pusat pembekuan itu, ternyata ada pada tempat sakit yang sedang dideritanya yaitu paha. Team dokter bahkan berkesimpulan bahwa dia terserang kanker dan keputusan akhir mengatakan, dia harus segera diamputasi dari pangkal pahanya agar penyakit tersebut tidak menyebar.

Di ruang operasi yang menegangkan itu, dia hanya pasrah dan menyerahkan dirinya pada qadla dan qadar Allah dan lisannya tidak berhenti dari berdzikir kepada Allah dengan tunduk dan khusyuk. Pisau pemotong telah siap di tempatnya dan dengan ketelitian yang tepat ditentukan daerah amputasi dari kaki tersebut.

Di tengah kehati-hatian yang penuh, kekhawatiran yang sangat dan ketakutan yang dalam, belum saja alat pemotong itu bergerak tiba-tiba pisau pemotong itu patah dengan sendirinya, sontak mengagetkan seluruh penghuni ruangan operasi itu. Kemudian pisau pemotongnya diganti yang baru, tetapi pisau itu patah lagi dan berulang hingga tiga kali.

Peristiwa pertama kali yang terjadi sepanjang sejarah ini menggoreskan bias kebingungan yang sangat di wajah team dokter tersebut. Setelah melakukan pertemuan singkat, team dokter memutuskan untuk mengoperasi paha wanita tersebut tanpa mengamputasinya. Tetapi alangkah terkejutnya mereka, belum saja pisau pembedah sampai ke tengah daerah paha, tiba-tiba mereka melihat darah beku berbau busuk yang menggumpal pada kapas yang dijadikan alas untuk membedah. Akhirnya dengan operasi kecil mereka bisa mengeluarkan gumpalan darah tersebut, membersihkan dan membalutnya. Seketika itu juga wanita itu sembuh dari sakit yang dideranya.

Para dokter hanya bisa mengatakan satu kalimat, bahwa hal ini tidak lain adalah pertolongan ilahiyah. Wanita itu menumpahkan seluruh kebahagiaannya melalui buliran kalimat-kalimat pujian kepada Allah sebagai bentuk rasa syukur atas rahmat-Nya. Dan inilah buah muroqobatullah-nya selama ini. /from many sources/

Reactions:

0 comments: